You are currently browsing the monthly archive for October 2009.
Potret ulang tahun ideal yang gue dapetin waktu gw masih kecil dulu didapatkan dari banyaknya pesta ulang tahun yang gue kunjungi. Kemeriahan, kue kue dan makanan yang berlimpah, nyanyi nyanyi, gim gim seru, dan banyaknya buntelan- buntelan kado yang menggunung membentuk satu kesimpulan tentang imej ulang tahun pada masa itu, yaitu : SANGAT MENYENANGKAN.
Anehnya, somehow sewaktu gw mulai berajak SMA, kesan itu berangsur-angsur menghilang. Tak ada lagi nyanyian riang dan kado kado yang menumpuk itu (well, some cases masih ada juga sih), yang ada malah aksi anarkisme yang dilegalkan dengan suksesnya. Mau tau?
Beberapa metode pengucapan selamat ulang tahun yang gw temuin di jaman gw SMA dulu adalah sebagai berikut :
1. Eh, haiii kamu… Selamat Ulang tahuuun,,, PLAAAKKK!! (Nampar, trus lari sambil nyengir)
reaksi yang berulang tahun : tersenyum senang,tapi pas ditampar BETE
2. Eh, haii… PLAKKKK!!!, nampar dulu baru bilang dengan maniis banget, ” Slamat ulang tahun yaaa…” kebalikan dari metode yang pertama dengan tingkat intimidasi yang sama hinanya.
reaksi yang berulang tahun : BETE, terus senyum.. tapi senyumnya maksa.
3. CUBIT! nah ini dia yang lebih kejam.. kebanyakan pelakunya adalah wanita dimana salah satu gift yang dikaruniakan Tuhan kepada wanita adalah cubitan maut dengan level putaran beda beda tipis dari dari putaran kipas angin. Lebih gawat lagi bila sang pencubit adalah wanita yang kebetulan sedang datang bulan, karena biasanya mereka akan mencubitmu tanpa belas kasihan sedikitpun.
reaksi yang berulang tahun : BETE. Kemungkinan tidak akan bisa tersenyum selama dua minggu..
4. Paket Combo, adalah kompilasi dari tamparan, cubitan dan kontak fisik lainnya yang disesuaikan dengan selera pelaku. Terkadang dikombinasikan dengan lemparan tepung terigu, telur dan barang yang basah-basah-lengket lainnya. Semakin hari jadwal penyiksaan bertambah semakin padat saja dikarenakan banyaknya inovasi- inovasi dari para pelaku agar si anak yang berulang tahun menjadi orang ternelangsa sedunia. Yang paling populer adalah menggotong si korban ke wc wanita dan menceburkannya kedalam bak mandi seolah sang korban adalah teh celup dan bak mandi adalah gelasnya.
reaksi yang berulang tahun : sedih, terhina, bercampur senang. karena tahu bahwa suatu hari dia bisa melakukan hal yang sama pada salah seorang pelakunya.
Dan itu semua adalah tontonan2 tragis yang cukup bikin hari2 gw di sekolah jadi tidak membosankan. Terutama karena gw adalah oknum yang cukup bertanggung jawab atas ide-ide penyiksaan itu.
Nngg.. Tentunya kecuali hari dimana gw sendiri yang berulang tahun dan mengalami semua hal itu.
Kelas satu, gw selamet.. karena belum semua orang tau klo hari itu adalah hari ultah gw. gw santai meen..
Kelas dua, kena tampar sekali dari cewek tercentil di kelas. Semakin tinggilah hasrat untuk melempar beliau dengan sandal.
Kelas tiga
Tahun itu gw mengalami ultah yang cukup naas, dimana gw dihadiahi paket combo plus plus.. mau tau kenapa gw sebut plus plus? check this out, sebelum gw dicelup celup kedalam bak mandi WC cewek, salah seorang pelaku yang kurang bertanggung jawab berinisiatif untuk terlebih dahulu dengan cerdasnya menaburkan isi tong sampah yang ada di WC itu ke badan gw yg masih telentang tak berdaya. Sebenarnya tidak maslah bila isinya adalah sampah – sampah yang normal. Dan saat itulah gw melihat benda itu..
benda apa emang? mmm… Kira kira aja nih ya.. benda apa sih yang cuma ada di tong sampah WC cewe?
betul. PEMBALUT WANITA.
Aduh plis yaaa.. gw aja sampai histeris ngeliatnya (fyi, ada kalanya juga bagi seorang pria untuk histeris). barangnya seken dong bo, seken.. and it’s there, on my school shirt, with all of the (maaf) blood… jangankan gw yg jadi victim, temen gw yang ngelemparin tong sampahnya juga ikut kaget (bedanya dia kaget senang). Namun gw bisa melihat ada rasa penyesalan di matanya (okei, enggak juga sih). Cukup? oh belum.. seolah olah gw masih keliatan kurang sengsara , sepatu gw dibawa kabur dan digantungin ke atas tiang basket. Jadilah pemandangan yang tidak lazim dimana ada seorang anak basah kuyup yang berlumuran sampah sedang loncat loncat mengambil sepatunya di lapang basket. Mungkin bila ini terjadi di depan gedung DPR, publik akan menganggapnya sebagai aksi teatirikal untuk menuntut kebijakan pemerintah. bedanya, tidak ada satupun wartawan yang meliput. Aduh gustiii!
somehow, hari itu gw kesulitan mengambil hikmah dari apa yang terjadi..
But it’s fun anyway.. except for the blood part.

Komen